Ada ruang diantara dua puluh jari yang tadinya berpaut.
Ada jarak diantara pundak yang tadinya berdampingan.
Tidak lagi menggenggam, tidak lagi memeluk.
Hilang pula dari pandangan mata.
Tapi setidaknya aku tahu kamu sedang berbahagia.
Syukurlah karena masih ada namamu di setiap doaku:
Jangan sakit, jangan bersedih. Sehatlah, bersenang-senanglah. Amin.
Dawai-dawai gitar mendadak berkabung.
Nada-nada lagu tiba-tiba menukik minor.
Lirik-lirik pengiring melodi seketika menyayat.
Tatkala..
Gita kenangan itu tertulis dalam satu partitur.
Dan..
Memori hadir (kembali).
Sejak detik awal keterpisahan, otak kanan dan kiri tidak berhenti menerka-nerka ribuan kemungkinan, sejuta penasaran, dan milyaran pertanyaan.
Mungkin kamu sama sepertiku. Menikmati angin malam yang masuk melalui pori-pori tembok kamar. Menyelimuti diri. Aku dengan selimutku, kamu dengan selimutmu.
Mungkin kamu sama sepertiku. Menikmati detakan jam dinding yang memecah hening.
Menerawang ke langit-langit kamar. Aku dengan langit-langit kamarku, kamu dengan langit-langit kamarmu.
Tapi mungkin kamu tidak sama sepertiku. Menikmati rindu yang menebas damai.
Menyaksikan kenangan masa lalu. Aku dengan senyum manismu, dan kamu.. tidak sedang seperti itu.
Selamat malam.
Aku berusaha mengolah huruf.
Ingin kuciptakan kata-kata yang bisa membuatku bicara.
Meluapkan semua duka, menghempaskan ribuan tanya.
Semua jadi satu menyiratkan rindu.
Namun dari A sampai Z tidak satupun bisa ku rangkai menjadi satu makna.
Kecuali 5 huruf yang membentuk namamu.
Sebelum sampai ke alam mimpi, aku harus melewati rute perjalanan malam.
Lewat kenangan yang di kanan kirinya menyuguhkan pemandangan yang sama; wajahmu.
Lewat kerinduan yang persimpangannya hanya menuju jalan satu arah; pelukanmu.
Lewat doa yang tanjakannya menukik ke sebuah puncak yang tinggi; senyum manismu.
Perjalanan jauh.